Sabtu, 24 April 2010

Helm SNI (?)

0

Awalnya saya juga kurang paham dengan singkatan kata yang tertera di atas. Tetapi, berhubung studi yang saya tekuni kemudian mengkaji mengenai hal itu saya pun mau tidak mau harus mempelajari mengenai standar nasional milik negeri kita.

Ini berawal dari kegiatan sosialisasi helm standar nasional Indonesia yang diadakan di depan gedung pasca sarjana, Undip beberapa waktu lalu di akhir bulan Maret tepatnya. Waktu itu salahsatu dosen mata kuliah yang saya ambil dipercaya untuk menangani acara tersebut oleh pihak BSN. Kami cukup menyediakan tempat, memesan snack-snack, teda-teda dan menyambut tamu. Acara berlangsung dua hari. Hari pertama dilaksanakan pukul tujuh malam. Saat itu kami khawatir jika peminat acara ini sedikit. Karena kondisi Semarang waktu itu gelap dan hujan. Tapi kemudian sejam berikutnya orang-orang mulai berdatangan, mulai dari kalangan mahasiswa, masyarakat umum yang kebetulan tengah lewat dan para rombongan motor gedhe yang sengaja diundang untuk menyemarakkan acara. Semua tampak antusias mendengarkan penjelasan dari pihak BSN dan polisi. Terlebih saat acara bagi-bagi helm ber-SNI. Dengan memberikan satu pertanyaan saja, kita bisa mendapatkan helm ber-SNI secara cuma-cuma (ya,lumayan lah, waktu itu harga helm jeis itu di pasaran mecapai 150ribu rupiah). Acara malam selesai pukul 22.00 WIB. Setelah bersih-bersih, kami kembali ke tempat masing-masing untuk istirahat sebentar dan persiapan acara esok paginya.
Di hari yang kedua diadakan konvoi keliling kota Semarang untuk sosialisasi helm ber-SNI bersama para anggota motor gedhe. Kemudian masing-masing peserta konvoi mendapatkan helm gratis dan beberapa yag lain diberi 50ribu rupiah.

Cerita di atas hanya sedikit mengenai acara sosialisasi saja, yang dilakukan tidak lama sebelum aturan penggunaan helm ber-SNI diwajibkan. Yang saya sayangkan adalah jarak antara sosialisasi dengan saat aturan yang menyatakan bahwa helm ber-SNI wajib digunakan sangatlah singkat. Sebenarnya acara sosialisasi sudah dimulai sejak tanggal 1Maret 2010, tetapi kegiatan ini dilakukan secara bergilir dari satu kota ke kota. Untuk di Semarang sendiri belum ada satu bulan jarak nya hingga akhirnya pemakaian helm ber-SNI di wajibkan. Hal ini yang saya belum mengerti, mengapa begitu cepat? Beberapa hari setelah sosialisasi bahkan ada teman yang mengeluh kepada saya karena telah ditilang sebab helm miliknya tidak ber-SNI. Melihat kondisi masyarakat kita seperti ini seharusnya sosialisasi diadakan 3-4 bulan sebelumnya. Agar mereka siap. Selain alasan helm ber-SNI yang harganya untuk beberapa golongan termasuk mahal, juga untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya penggunaan helm ber-SNI. Karena tujuan dari sosialisasi adalah agar masyarakat mengerti mengapa aturan diberlakukan wajib di Indonesia dan diharapka akan timbul kesadaran dari dalam diri masing-masing idividu di masyarakat.

Hingga saat ini pun banyak yang belum paham, mengapa semua helm harus di emboss tanda SNI dulu. Termasuk helm yang sudah lolos uji kualitas internasional. Alasan yang mendasari adalah berkaitan dengan kondisi dari tiap-tiap daerah. Karena tiap daerah itu berbeda iklim, cuaca, kelembaban, dan suhunya. Maka dibentuklah standar nasional pada tiap-tiap negara. Jadi tiap negara memiliki standarnya masing-masing. Untuk helm, ini tidak melulu berkaitan dengan kekuatan helm saja (yang tentunya menjadi faktor utama), tetapi juga berkaitan dengan faktor alam di atas. Kondisi alam Indonesia tentu berbeda kan dengan yang ada Eropa sana. Jadi, helm ber-SNI selain telah lulus uji benturan dan sebagainya, juga didesain untuk pengguna Indonesia. Dengan ukuran kepala yang cocok untuk ukuran orang Indonesia umumnya, dengan lubang ventilasi yang cukup melihat negara kita ini beriklim tropis, dengan bahan yang kuat dan sesuai dengan kondisi musim hujan dan musim kemarau yang ada di Indonesia. Alasan-alasan itulah yang sebenarnya perlu masyarakat ketahui. Sehingga mereka tidak emosi terlebih dahulu mendengar helm standar internasionalnya tidak sesuai. Selain alasan-alasan di atas, sebenarnya standar nasional juga dibuat untuk memproteksi produk nasional. Dengan penerapan standar nasional, produk-produk serupa yang berasal dari luar negeri tidak dapat masuk ke Indonesia. Ini juga dapat dipandang sebagai bentuk perhatian pemerintah dalam perlindungan terhadap produk dalam negeri. Alasan lain adalah juga untuk melindungi konsumen dari produk tak bermutu agar tidak beredar di pasaran. Sebab helm dipakai untuk keselamatan diri kita sewaktu berkendara, mengingat kasus kecelakaan sepeda motor di Indonesia yang masih tinggi.

dibuat di sela-sela waktu belajar ujian mid semester 6
Read more

Jumat, 23 April 2010

intermezzo

0
Sebenarnya saya kurang setuju dengan umpatan-umpatan yang dilontarkan oleh beberapa orang di facebook. Sangat mengganggu saya rasa (ini tidak termasuk yang tujuannnya hanya sebagai candaan antar teman ya). Meskipun mungkin umpatan-umpatan tersebut tidak ditujukan kepada diri saya sendiri, tetapi membacanya sebagai orang asingpun bisa membuat saya kehilangan respect terhadap orang yang bersangkutan. Ya, meskipun sempat saya tergoda untuk melakukan hal yang sama, tetapi kemudian pikiran panjanglah yang bantu menyelamatkan saya dari tindakan bodoh itu.
Mungkin bisa jadi saat itu saya sedang emosi. Tapi bagaimanapun juga meluapkan emosi tidak ada manfaatnya. Berpikir panjanglah! Pikirkan bagaimana cara menyelesaikan masalah yang membuat kita emosi itu dengan kepala dingin. Jika belum bisa saat itu juga, diamlah untuk beberapa saat hingga teredam, dan kemudian bertindaklah dengan kepala dingin. Jujur saja, saya pun juga bukan orang yang sebersih itu. Tapi setidaknya, saya selalu berusaha menanggapi masalah tidak langsung dengan emosi. Pikirkan matang-matang kenapa begini, kenapa begitu, ada apa di balik kejadian ini, ada apa dibalik kejadian itu, dan tindakan dengan kepala dingin untuk penyelesaian masalah yang terjadi adalah jauh lebih baik dibanding jika kita terus meluap-luapkan emosi.

Read more

Kamis, 18 Maret 2010

8 Dimensi Kualitas

6


Menurut Douglas C. Montgomery, terdapat 8 dimensi kualitas. Berikut adalah identifikasi dimensi kualitas untuk produk Tamiya:
1. Performance
Menunjukkan karakteristik utama suatu produk.
Ukuran performansi dari sebuah tamiya adalah kecepatan, dengan satuan meter per sekon (m/s) dan kemampuan tamiya untuk berjalan lurus yang dipengaruhi oleh kondisi roller. Sebab, orang pada umumnya membeli tamiya dengan tujuan sebagai sarana permainan dan mereka memainkannya untuk adu balap dengan tamiya lain.

2. Reliability
Merupakan dimensi kualitas yang menunjukkan kemungkinan suatu produk dapat berfungsi dengan baik dalam suatu periode waktu tertentu. Biasanya diukur dengan menggunakan waktu rata-rata kegagalan. Produk dikatakan awet, kalau sudah banyak digunakan atau sudah lama sekali digunakan. Bagi perusahaan, sebenarnya awet juga hal dilematis. Karena produk awet, maka pelanggan akan lama dalam membeli produk baru lagi dan tentunya dapat mengurangi kesempatan perusahaan untuk mendapatkan revenue lagi. Akan tetapi, apabila awet adalah hal penting dan ternyata perusahaan tidak menawarkan hal ini, pelanggan akan pindah kepada merek pesaing karena tidak puas. Suka atau tidak, memproduksi produk yang benar-benar awet adalah pilihan yang lebih baik. Walau pelanggan tidak membeli untuk waktu yang lama, perusahaan masih dapat berharap bahwa pelanggan akan menyebarkan word of mouth yang positif. Dimensi reliability produk tamiya dapat dilihat dari jangka waktu hingga tamiya mengalami kendala-kendala, seperti : mengalami kemacetan.

3. Durability
Merupakan ukuran dari umur suatu produk. Diukur dari waktu daya tahan produk tersebut, dimana produk tersebut lebih baik diganti daripada diperbaiki.
Ukuran durability (Ketahanan) dari sebuah produk tamiya adalah jangka waktu sampai tamiya benar-benar rusak, tidak dapat berjalan, hingga harus diganti dengan yang baru.

4. Serviceability
Merupakan kecepatan, kemampuan dan kemudahan dalam perbaikan. Dimensi serviceability produk tamiya ditunjukkan oleh kesiapan dan kemudahan tamiya saat diperbaiki bila terjadi kerusakan. Produk tamiya tidak memiliki pusat servis khusus, tetapi apabila mengalami kerusakan komponen-komponennya mudah dijangkau karena tamiya dapat dibongkar pasang.

5. Aesthetic
Merupakan ukuran, desain, rasa, suara, dan bau dari suatu produk. Dimensi aesthetic suatu tamiya dapat dinilai dari ukuran, bentuk/ desain dan warnanya.

6. Features
Merupakan item-item ekstra yang ditambahkan dalam suatu produk. Untuk produk tamiya, item ekstra yang ditambahkan misalnya remote control, baterai tamiya yang tahan lama.

7. Perceived Quality
Merupakan penilaian konsumen terhadap kualitas produk yang dihasilkan oleh merek-merek tertentu. Reputasi merk tamiya di mata konsumen menjadi tolok ukur kualitasnya.

8. Conformance to Standard
Merupakan tingkat dimana suatu produk dan jasa telah sesuai dengan spesifikasinya. Hal ini berkaitan dengan apakah tamiya tersebut telah lolos melewati beberapa pengujian kualitas. Dimensi ini dapat juga dilihat dari sertifikasi standar kualitas yang dimiliki oleh produk tamiya tersebut. Salah satu contohnya adalah Standar Nasional Indonesia.

Analisis :
Dimensi utama sebagai tolok ukur kualitas tamiya yang berfungsi sebagai sarana permainan adalah performansi. Dalam hal ini performansi tamiya dipengaruhi oleh kecepatannya.
Read more
 
Copyright 2011 HandsLife. Designed by Cute Templates Blogger.
Thanks to: Link 1, Link 2, Link 3.